RAGAM

Menjaga “Cai Sarebu” di Tanah yang Dahaga: Sisi Religius dan Humanis Kapolsek Cisewu Menjawab Krisis Air di Balong Sirah​

3
×

Menjaga “Cai Sarebu” di Tanah yang Dahaga: Sisi Religius dan Humanis Kapolsek Cisewu Menjawab Krisis Air di Balong Sirah​

Sebarkan artikel ini

CISEWU, GARUT — Ketika kemarau merayap perlahan dan sumur-sumur warga mulai mengering, udara dingin di ujung selatan Kabupaten Garut kini terasa menyengat oleh ketakutan akan dahaga. Cisewu—sebuah kawasan yang namanya berakar dari mahakarya sejarah “Cai Sarebu” atau Seribu Mata Air—ironisnya kini tengah menjerit akibat krisis air bersih. Di tengah jeritan tuntutan kebutuhan mendasar warga, seragam cokelat penegak hukum hadir bukan dengan ketegasan yang kaku, melainkan dengan empati yang memeluk erat nurani masyarakat.​

Di tangan Kapolsek Sektor Cisewu Resor Garut, penegakan hukum menjelma menjadi pengabdian sejati. Beliau berdiri di garis depan: menjaga keteraturan hukum sekaligus merawat mata air purba yang kini menjadi benteng terakhir penyambung nyawa warga.

​Jeritan di Tanah Seribu Mata Air​Kekeringan yang menerpa wilayah Cisewu belakangan ini telah merenggut ketenangan warga. Gemericik air yang dahulu menjadi musik harian perbukitan hijau kini berganti antrean deretan jeriken kering. Kebutuhan air bersih tidak lagi sekadar urusan sanitasi, melainkan tuntutan bertahan hidup.​Dalam situasi kritis ini, mata masyarakat tertuju pada satu titik harapan: Situs Balong Sirah.

Mata air purba yang terancam surut ini menjadi tumpuan utama seluruh warga untuk menyambung hidup.​”Secara etimologi, Cisewu berasal dari kata ‘Cai Sarebu’ atau Seribu Mata Air.

Dan Balong Sirah—yang berarti Kolam Hulu—adalah jantung utama yang menyuplai kehidupan bagi seribu mata air tersebut sejak zaman purba,” ungkap Kapolsek Cisewu dengan nada takzim di hadapan warga yang cemas.

[ Situs Balong Sirah ] (Jantung Utama “Cai Sarebu”) │ ┌────────────────┴────────────────┐ ▼ ▼ [ Warisan Sejarah & Adat ] [ Benteng Penyelamat ] (Kawasan Pertapaan/Wingit) (Krisis Air Bersih Warga) │ │ └────────────────┬────────────────┘ ▼ [ Pendekatan Humanis Kapolsek ] (Distribusi Adil & Konservasi Alam)

Menyingkap Tabir Sejarah: Balong Sirah dan Spiritualitas Kelestarian​Bagi Kapolsek yang dikenal religius ini, krisis air bukan sekadar fenomena alam, melainkan alarm bagi manusia untuk kembali menghormati sejarah dan leluhur. Dalam setiap kesempatan merangkul warga, beliau memaparkan perjalanan panjang Balong Sirah yang kaya nilai filosofis:​Era Kerajaan Padjadjaran (Pamubusan): Dahulu bernama Ciangsara, kawasan hutan belantara yang terisolasi ini menjadi tempat pertapaan dan perlindungan (pamubusan) para ksatria.

Baca Juga  Dosa Berulang Mafia Bansos: Jeritan Rakyat Talegong Menembus Langit, Hukum Harus Bertaji!

Air Balong Sirah memiliki karomah sebagai media penyucian diri para pembesar kerajaan sebelum mengemban tugas negara.​Ritual Mandi Hanjuang Beureum: Keterikatan agraris masyarakat Sunda kuno melahirkan tradisi memercikkan air Balong Sirah menggunakan daun hanjuang beureum (juang merah) sebagai ungkapan syukur kepada Nyai Sri Pohaci—simbol batas keselamatan, kehidupan, dan penolak bala.​

Saksi Bisu Perjuangan: Kolonial Belanda sempat mencap wilayah ini sebagai tempat pembuangan, namun bagi para pejuang gerilya Galuh, Nangkaruka, Jampang, hingga Mataram, air Balong Sirah adalah penyelamat nyawa dari dahaga di tengah peperangan.​

Kearifan Lokal Sebagai Hukum Adat: Kritik Lingkungan Berbasis Budaya​Sebagai penegak hukum yang kritis, Kapolsek menyadari bahwa leluhur Sunda telah menciptakan sistem konservasi lingkungan yang genius melalui konsep wingit (keangkeran).

Hukum adat tidak tertulis melarang keras siapa pun untuk merusak pohon, mengotori air, atau berkata kasar di Balong Sirah, dengan ancaman sanksi gaib berupa kacugak (kuwalat).

[ Hukum Adat Kuno: Wingit ] ──> Menjaga Sopan Santun & Kelestarian Alam │ ▼[ Hukum Positif Modern ] ──> Diadopsi melalui Pendekatan Humanis Polri

​”Secara ekologis, aturan mistis leluhur ini adalah bentuk hukum konservasi alam yang sangat cerdas. Tugas kita sekarang adalah meneruskan warisan spiritual ini dengan kesadaran hukum modern untuk menjaga alam,” tegas Kapolsek.​

Aksi Nyata Sang Pengayom: Membagi Air, Menyentuh Hati​Di kala dahaga melanda, Kapolsek Cisewu tidak tinggal diam di balik meja markas. Beliau turun langsung ke lapangan saat kekeringan memuncak, berdiri di antara warga yang mengantre air bersih di Balong Sirah.​

Dengan pendekatan yang humanis dan penuh kehangatan, beliau memastikan:​Distribusi Air yang Adil: Memastikan setiap kepala keluarga, tanpa terkecuali, mendapatkan hak air bersih secara merata tanpa konflik.

Baca Juga  Topeng Keadilan yang Runtuh di Cigudeg: Enam Polisi Gadungan Berakhir di Balik Jeruji

​Edukasi Konservasi: Mengetuk hati warga untuk tidak merusak atau menebang pohon-pohon penyangga di sekitar mata air purba.​Penguatan Keamanan Lingkungan: Mengajak warga menjaga ketertiban bersama di tengah situasi sulit.​

Pendekatan ini membuktikan bahwa penegakan hukum terbaik tidak selalu bermuara pada penindakan atau jeruji besi, melainkan pada kebangkitan kesadaran etis masyarakat dalam berbangsa dan bernegara.​Asa di Ujung Selatan Garut​Balong Sirah bukan sekadar situs geohistoris yang mati.

Di bawah kepedulian dan pengawasan humanis Kapolsek Cisewu, tempat ini tetap hidup menjadi simbol spiritualitas, penyelamat di masa krisis, dan saksi bisu bahwa hukum yang sejati adalah hukum yang melindungi dan menyambung kehidupan manusia. (Rudy Ugt)

Tinggalkan Balasan