GARUT — Sebuah wilayah tidak akan pernah berubah menjadi besar hanya karena ia melimpah dengan potensi. Perubahan sejati selalu dimulai dari tempat yang paling sunyi, namun paling menentukan: cara berpikir.
Bagi Garut Utara, narasi besar mengenai pembentukan Daerah Otonom Baru (DOB) kini bukan lagi sekadar urusan birokrasi, pemekaran wilayah, atau pemindahan pusat administrasi. Ini adalah sebuah gugatan terhadap status quo. Sebuah manifesto perubahan paradigma untuk meruntuhkan tembok kenyamanan yang selama ini membelenggu kemajuan.
Dalam refleksi tajamnya, Ir. Dede Salahudin, MM, Sekretaris Umum Paguyuban Masyarakat Garut Utara (PM GATRA), menegaskan bahwa tantangan terbesar Garut Utara hari ini bukanlah moratorium pemerintah pusat, bukan regulasi yang kaku, dan bukan pula minimnya anggaran.
“Tantangan terbesar kita adalah membangun kesadaran bersama bahwa ketertinggalan ini tidak boleh diterima begitu saja sebagai takdir,” tegasnya.
Paradoks “Otak Menteri, Hati Santri”
Jika melihat potret demografis dan sosiologisnya, Garut Utara sesungguhnya adalah raksasa yang sedang tertidur. Wilayah ini kaya:
Sumber Daya Alam (SDA): Terbentang luas dengan potensi agraria dan ekonomi yang melimpah.
Sumber Daya Manusia (SDM): Melahirkan deretan tokoh nasional, ulama kharismatik, akademisi, birokrat, hingga menteri.
Kombinasi ini melahirkan identitas kultural yang kuat: “Otaknya menteri, hatinya santri.” Sebuah perpaduan ideal antara kapasitas intelektual kelas atas dan jangkar moralitas yang kokoh.
Namun, paradoksnya, mengapa Garut Utara masih tertinggal?
Dede Salahudin membedah akar masalah ini dengan jujur dan lugas. Jawabannya menukik pada kegagalan berpikir kolektif. Garut Utara terlalu lama terbuai dalam zona nyaman. Energi publik habis terbakar untuk memperdebatkan perubahan, alih-alih mempersiapkannya. Ketika data dan kajian ilmiah dikalahkan oleh persepsi, egosentrisme, dan kepentingan politik jangka pendek, saat itulah masa depan daerah dipertaruhkan.
Biaya Mahal dari Sebuah PenundaanKetertinggalan bukanlah angka statistik yang mati di atas kertas. Setiap tahun penundaan pemekaran wilayah memiliki dampak nyata yang harus dibayar mahal oleh masyarakat:
Sektor Dampak Riil Penundaan / Ketertinggalan Pendidikan Anak-anak kehilangan akses terhadap kualitas layanan pendidikan yang lebih kompetitif.
Pelayanan Publik Masyarakat harus menempuh jarak geografis yang jauh hanya untuk mengurus administrasi dasar.
Ekonomi Pertumbuhan potensi lokal berjalan lambat, investasi tersendat, dan peluang kerja produktif menguap.
“Semua itu adalah cost (biaya) dari keputusan yang terus-menerus ditunda,” ujar Dede.
Menuju Peradaban Baru: Bukan Sekadar Kabupaten Oleh karena itu, PM GATRA menegaskan bahwa arah perjuangan Garut Utara harus digeser. Ini bukan lagi sekadar gerakan politik praktis untuk mendirikan sebuah kabupaten baru, melainkan sebuah gerakan moral dan intelektual untuk membangun peradaban baru.
Sebuah peradaban maju ditandai dengan perubahan radikal dalam cara memandang masa depan:
Dari berpikir sempit-parokial menjadi berpikir strategis-global.
Dari sekadar mempertahankan keadaan (status quo) menjadi menciptakan inovasi.
Dari pemuasan kepentingan pribadi menjadi kemaslahatan kolektif.
Dari sekadar bertahan hidup hari ini menjadi menyiapkan fondasi generasi masa depan.
Catatan Redaksi: Membaca Zaman, Mengambil Keputusan
Sejarah peradaban dunia telah berulang kali membuktikan bahwa tanah yang subur sekalipun akan gersang jika tidak dikelola oleh visi yang tajam.
Daerah menjadi maju bukan semata-mata karena isi buminya, tetapi karena pemimpin dan masyarakatnya memiliki keberanian untuk membaca arah zaman dan mengambil keputusan berbasis data (data-driven policy).
Garut Utara kini berada di persimpangan jalan. Memasuki babak baru ini, tuntutan yang ada bukan lagi sekadar meneriakkan aspirasi di jalanan, melainkan mengetuk kesadaran di setiap kepala masyarakatnya.
Perubahan bukanlah ancaman yang harus ditakuti, melainkan oksigen yang dibutuhkan untuk bertahan hidup. Perjuangan ini baru benar-benar dimulai ketika seluruh elemen Garut Utara berani menatap cermin, mengakui ketertinggalannya, dan melangkah bersama dengan satu keyakinan: Masa depan Garut Utara tidak dibeli dengan belas kasihan, melainkan direbut dengan kecerdasan dan persatuan. (Ridwan)












