CIBINONG — Semilir angin yang berhembus di antara rimbunnya batang bambu Yayasan Bambu Indonesia, Cibinong, Bogor, menjadi saksi ketakziman dan ikhtiar bersama para pelestari budaya bangsa. Pada Sabtu (8/2/2025), Komite Pencak Silat Tradisi Indonesia (KPSTI) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I PP-KPSTI. Lebih dari sekadar agenda organisasi, perhelatan ini memancarkan getaran spiritual dan keteguhan niat untuk menjaga warisan luhur pencak silat agar tak legam oleh zaman.
Suasana khidmat menyelimuti Pembukaan acara yang diawali dengan pembacaan rasa syukur atas karunia Ilahi, dilanjutkan lantunan megah lagu kebangsaan Indonesia Raya. Keteguhan jiwa pembela nusa terasa kian menghujat dada tatkala Ketua Umum PP KPSTI, Dr. Nu Ali, M.Pd., menyampaikan sambutannya. Beliau menekankan bahwa pencak silat bukan sekadar oleh tubuh atau seni bela diri, melainkan ibadah kebudayaan yang sarat nilai akhlak, keluhuran budi, dan ketakwaan.
Pengantar pembahasan Raker kemudian dipaparkan secara runtut dan mendalam oleh Sekjen PP KPSTI, Wahdat MY. Diskusi berlangsung dinamis, diperkaya oleh sumbangsih pemikiran fungsionaris dan para pimpinan PP KPSTI yang hadir, di antaranya Bawor Wulung MG (Waketum Bidang Teknis), H. Yusron Syarief (Waketum Bidang Humas dan Riset), Dr. Rismanto (Waketum Bid. Organisasi dan Hublu), serta pesan keilmuan mendalam dari tokoh spiritual dan tradisi, H. Azis Asharie (Dewan Pakar / Tokoh Maenpo Cikalong).
Dari ruang tukar pikiran dan tanya jawab tersebut, terumuskan empat Rekomendasi Strategis sebagai ikhtiar kolektif menjaga amanah peradaban:
Kehadiran Negara untuk Pelestarian Berkelanjutan (Sustainability)
Sosialisasi status Pencak Silat sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) yang diakui UNESCO harus digelorakan secara masif. Mandat pelestarian ini tidak boleh hanya menjadi beban di pundak insan pencak silat semata, melainkan membutuhkan kehadiran dan peran aktif negara secara optimal.
Sinergi Tanpa Dikotomi antar-Lembaga
Menyatukan persepsi dan membangun sinergi utuh, berjenjang, serta berkesinambungan antara lembaga pemerintah, organisasi, dan komunitas terkait. Kerja kebudayaan ini harus terbebas dari sikap dikotomi maupun penanganan yang bersifat parsial.
Penguatan Akar Akademis dan Sport-Entertainment
Pelestarian tidak boleh berhenti pada festival atau helatan seremonial semata, melainkan diperkuat melalui pengkajian, pendokumentasian, seminar, lokakarya, diklat, serta penyusunan silabus bahan ajar. Salah satu terobosannya adalah penyusunan jurus baku atau senam berbasis pencak silat tradisi berkonsep sport-entertainment.
Ekspansi Nusantara 2025
Sebagai langkah nyata melebarkan sayap pelestarian, PP-KPSTI secara bertahap membentuk kepengurusan daerah di pelbagai provinsi sepanjang periode 2025, mencakup DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Barat, Jambi, hingga beberapa wilayah di Kalimantan.
Rangkaian Raker ditutup dengan simpulan dan doa bersama, memohon petunjuk serta ridho Allah SWT agar setiap langkah perjuangan melestarikan identitas bangsa ini bernilai ibadah dan membawa keberkahan bagi bumi Nusantara. (Hasan S)




