HUKUM

Menjemput Ridho Ilahi, Merawat Cahaya Sanubari: Muhasabah Cinta untuk H. Anwar Bin Bakri & Hj. Ramlah BT. Muhammad Nuh

55
×

Menjemput Ridho Ilahi, Merawat Cahaya Sanubari: Muhasabah Cinta untuk H. Anwar Bin Bakri & Hj. Ramlah BT. Muhammad Nuh

Sebarkan artikel ini

CIANJUR, JABAR – Di bawah naungan langit malam Kavling Gombong Asri yang hening, getaran tawadhu membumbung tinggi menembus sekat-sekat langit. Tepat pada Sabtu malam, 7 Februari 2026, sebuah simfoni doa melantun syahdu dari kediaman keluarga besar almarhum di RT 001/RW 008, Desa Limbangansari.

​Peringatan Haolan ini bukan sekadar tradisi, melainkan sebuah ikhtiar batin untuk menjemput ampunan dari Sang Maha Pencipta, Allah SWT, bagi dua jiwa yang telah mendahului: Almarhum H. Anwar Bin Bakri (Wafat 2023) dan Almarhumah Hj. Ramlah BT. Muhammad Nuh (Wafat 2022).

​Pilar Peradaban Berasaskan Iman
​Almarhum dan almarhumah adalah sosok yang semasa hidupnya dikenal sebagai arsitek peradaban terkecil—yakni keluarga. Mereka tidak hanya meninggalkan warisan duniawi, melainkan pondasi iman yang kini mengalir dalam darah anak, menantu, hingga cucu-cucu mereka. Melalui tangan dingin dan lisan yang penuh nasihat, keduanya telah menanamkan karakter kesalehan yang kini menjadi suluh bagi keluarga besar dalam melangkah. ​Kesaksian Bumi untuk Penduduk Langit
​Lebih dari 50 orang, termasuk warga sekitar, hadir dengan antusiasme yang mengharukan.

Kehadiran mereka seolah menjadi saksi bumi bagi penduduk langit; bahwa semasa hidup, kedua almarhum adalah pribadi yang menebar manfaat. Suasana khidmat saat pembacaan Yasin dan Tahlil menjadi bukti nyata bahwa kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas tidak akan pernah luntur oleh waktu. ​”Kebaikan mereka adalah jejak yang membekas.

Kami hadir di sini bersaksi bahwa mereka adalah orang-orang baik,” bisik salah seorang warga di tengah kepulan doa yang menghangatkan suasana. ​Getaran Syukur dari Relung Hati ​Muhammad Azmi, SH, mewakili keluarga besar dengan penuh ketulusan menyampaikan rasa terima kasihnya. Ia menyadari bahwa doa kolektif dari para tetangga dan kerabat adalah “hadiah” yang paling dinanti oleh orang tua mereka di alam barzakh. ​”Jazakumullahu Khairan Katsiran. Kehadiran Bapak dan Ibu sekalian adalah penyejuk bagi kami.

Baca Juga  Desa Cimahi Darurat Air Bersih, Garut: Janji Manis yang Tak Kunjung Terwujud Berdampak Krisis Kepercayaan Terhadap Pelayan Publik?

Doa-doa yang dipanjatkan malam ini adalah wasilah yang kami harapkan dapat mempermudah jalan Ayahanda dan Ibunda kami menuju jannah-Nya,” tutur Azmi dengan nada yang menyentuh sanubari.
​Munajat: Doa Langit untuk Keabadian
​Di penghujung acara, langit Gombong Asri seolah menjadi saksi atas harapan-harapan yang dilangitkan:
​Ampunan yang Luas: Memohon agar Allah SWT mengampuni segala kekhilafan almarhum dan almarhumah, melapangkan kubur mereka seindah taman surga, dan mempertemukan mereka kembali dalam balutan ridho-Nya.

​Ketabahan & Keberkahan Keluarga: Kiranya keluarga besar yang ditinggalkan senantiasa dipeluk oleh kesabaran layaknya Nabi Ayyub AS. Semoga kesehatan lahir batin menyertai, serta pintu rezeki dibuka selebar-lebarnya dari jalan yang tak terduga—rezeki yang tidak hanya melimpah secara kuantitas, namun juga barakah secara makna. ​Malam itu ditutup dengan kedamaian yang mendalam.

Sebuah pengingat bagi kita semua, bahwa cinta yang sejati adalah cinta yang saling mendoakan hingga bertemu kembali di keabadian kelak. (Red)

Tinggalkan Balasan