
GARUT – Sebelas tahun telah berlalu sejak deru air Sungai Cimanuk meluluhlantakkan sisi kehidupan di Lapang Paris pada September 2016. Namun, bagi komunitas Sekolah Sungai Cimanuk (SSC), ingatan akan tragedi tersebut bukan sekadar duka, melainkan panggilan untuk sebuah aksi nyata yang berkelanjutan.
Memperingati Hari Sejuta Pohon Sedunia, Sabtu (10/1/2026), SSC menggelar aksi bersih-bersih dan penanaman pohon di area Tugu Peringatan Tragedi Banjir Bandang, Teras Cimanuk, Kecamatan Tarogong Kidul. Aksi ini menjadi pengingat bahwa pelestarian alam adalah mandat etis yang tidak bisa ditawar.

Sentuhan Etika di Balik Monumen yang Terlupakan
Direktur Sekolah Sungai Cimanuk, Mulyono Khaddafi, menyayangkan kondisi Tugu Peringatan yang kini tampak kumuh, diselimuti lumut, dan dikepung sampah. Padahal, tugu tersebut bukan sekadar struktur beton, melainkan simbol penghormatan bagi para korban dan “buku sejarah” bagi generasi mendatang.
”Buat apa dibangun tugu megah dengan biaya besar jika pada akhirnya dibiarkan merana tanpa perawatan? Merawat tugu ini adalah bentuk etika kita dalam menghargai sejarah dan alam,” tegas Mulyono dengan nada getir namun penuh semangat.

Penegakan Aspek Mitigasi dan Tanggung Jawab Publik
Dalam perspektif yang lebih luas, kegiatan ini menyoroti pentingnya penegakan komitmen terhadap fasilitas publik. Mulyono menekankan bahwa menjaga ekosistem di sekitar tugu adalah bagian dari mitigasi bencana berbasis komunitas.
- Penyerap Karbon: Penanaman pohon secara bertahap bertujuan mengembalikan fungsi ekologis lahan.
- Edukasi Kolektif: Melibatkan 42 perwakilan Kampung Siaga Bencana (KSB) se-Kabupaten Garut untuk memastikan kesiapsiagaan tetap terjaga.
- Tanggung Jawab Hukum & Moral: Mendorong semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, untuk tidak abai terhadap aset-aset yang dibangun dari anggaran publik demi kepentingan lingkungan.
Menanam untuk Masa Depan
Gerakan yang bermula sejak pencanangan oleh Presiden Soeharto pada tahun 1993 ini kembali ditekankan sebagai solusi konkret mengatasi deforestasi. Mulyono mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan momentum ini sebagai titik balik dalam menjalin hubungan yang selaras dengan alam.
”Jika kita mencintai alam, alam pun akan mencintai kita. Menanam pohon hari ini adalah janji kita bahwa tragedi serupa tidak boleh terulang lagi akibat kelalaian manusia menjaga buminya,” pungkasnya.
Analisis Berita:
- Relevan: Mengaitkan sejarah (2016), momen nasional (10 Januari), dan kondisi terkini (2026).
- Elegan & Menyentuh: Menggunakan diksi seperti “Menyemai Harapan” dan “Buku Sejarah” untuk menggugah emosi pembaca.
- Penegakan Hukum & Etik: Mengkritisi pemeliharaan aset publik yang berbiaya besar namun terbengkalai, serta menekankan tanggung jawab moral kolektif.
Penulis Berita : LIPSUS/Cyber BK-RI Garda Hukum & Lingkungan “Kritis Terhadap Lingungan dan Penegakan Hukum“