RAGAM

OPINI PUBLIK: Jeritan dari Tanah Sukarame

34
×

OPINI PUBLIK: Jeritan dari Tanah Sukarame

Sebarkan artikel ini

GARUT – Di balik sejuknya angin di Kecamatan Caringin, tersimpan luka lama yang tak kunjung mengering. Puluhan tahun merdeka, namun warga Desa Sukarame merasa aspirasi mereka masih terjajah oleh ketidakpastian. Sebuah narasi pilu datang dari akar rumput, memanggil para pemimpin untuk mengetuk pintu nurani yang mungkin selama ini terkunci rapat.

Sengketa Tanpa Akhir: Sejak Era Penjajahan

​Bukan setahun atau dua tahun, sengketa Tanah Lapang dan Pasar Desa Sukarame dikabarkan telah berakar sejak era kolonial hingga detik ini. Bagaimana mungkin di tengah kemajuan zaman, sebuah aset publik yang menjadi napas ekonomi dan sarana olahraga warga masih terjebak dalam pusaran konflik hukum yang tak berujung?

  • Pasar Desa: Nadi ekonomi warga yang terus dibayangi kecemasan.
  • Lapangan Sepak Bola: Ruang bagi pemuda mengukir prestasi, kini hanya menjadi saksi bisu perdebatan regulasi.

Panggilan Terbuka untuk Sang Pemimpin

​Warga Desa Sukarame tidak lagi butuh janji manis di atas kertas. Mereka memanggil nama-nama yang memegang tongkat kebijakan dengan penuh harap:

  1. Bapak Kades Sukarame & Bapak Camat Caringin: Sebagai garda terdepan, mampukah menjadi penyambung lidah yang jujur bagi rakyatnya?
  2. Bapak Bupati Garut: Rakyat menanti ketegasan eksekutif untuk mengembalikan hak publik.
  3. Bapak Hakim yang Mulia: Di tanganmu keadilan diletakkan. Bukalah nurani, lihatlah tanah itu bukan sekadar objek perkara, tapi hajat hidup orang banyak.

“Bapak Aing” (Kang Dedi Mulyadi): Harapan Terakhir di Jawa Barat

​Secara khusus, warga menyuarakan kerinduan kepada sosok Kang Dedi Mulyadi (KDM), Gubernur Jawa Barat yang akrab disapa Bapak Aing. Dikenal dengan pendekatan humanis dan kedermawanannya, KDM diharapkan hadir sebagai oase di tengah gersangnya penegakan hukum yang mandul di Sukarame.

“Kami memanggilmu, KDM! Bapak Aing yang dermawan, hadir dan berikanlah solusi nyata bagi sarana olahraga dan pasar kami. Jangan biarkan sengketa ini menjadi warisan pahit bagi anak cucu kami.”

Refleksi Religi: Pemimpin Adalah Pelayan

​Dalam sudut pandang religi, kekuasaan adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan YME. Menelantarkan hak rakyat atas tanah publik adalah bentuk pengabaian terhadap amanah tersebut. Penegakan hukum yang mandul bukan hanya kegagalan sistem, tapi juga kegagalan empati.

Baca Juga  Menyemai Karakter di Tanah Jayaraga: SDN 1 Jayaraga Harmonisasikan Disiplin dan Spiritualitas lewat Pramuka

Sukarame Menanti. Akankah suara ini sampai ke telinga mereka yang duduk di kursi empuk kekuasaan, ataukah sengketa ini akan terus abadi melampaui usia kemerdekaan bangsa? (Red)

Tinggalkan Balasan