RAGAM

Khidmat HUT ke-385 Kabupaten Bandung: Antara Doa untuk Leluhur dan Bakti Nyata bagi Korban Banjir

2
×

Khidmat HUT ke-385 Kabupaten Bandung: Antara Doa untuk Leluhur dan Bakti Nyata bagi Korban Banjir

Sebarkan artikel ini

KABUPATEN BANDUNG – Di tengah gema perayaan Hari Jadi ke-385 Kabupaten Bandung, suasana haru menyelimuti rangkaian ziarah yang dipimpin langsung oleh Bupati Bandung, Dadang Supriatna (KDS). Bukan sekadar ritual tahunan, ziarah kali ini menjadi momentum refleksi mendalam: menghormati masa lalu sekaligus memikul tanggung jawab besar bagi warga yang kini tengah dirundung duka akibat bencana alam.

Ziarah: Menjemput Berkah dari Jejak Sejarah

​Mengawali perjalanan dari Taman Makam Pahlawan (TMP) Cikutra hingga berakhir di Situs Makam Bupati Bandung pertama, R TMG Wira Angun Angun di Dayeuhkolot, Bupati KDS beserta jajaran Forkopimda tampak khusyuk memanjatkan doa. Langkah kaki di antara pusara para pemimpin terdahulu seperti RA Wiranatakusumah II menjadi pengingat bahwa kepemimpinan adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan.

​”Banyak sekali yang telah diwariskan para almarhum untuk perkembangan Kabupaten Bandung saat ini. Kita doakan semoga mereka ditempatkan di sisi terbaik Allah SWT,” ujar KDS dengan nada rendah penuh takzim.

Kemanusiaan di Atas Seremonial

​Namun, di balik khidmatnya doa untuk para pendahulu, hati KDS tak lepas dari kondisi warganya yang kini sedang berjuang melawan terjangan banjir, khususnya di wilayah Ciapus, Banjaran. Baginya, HUT ke-385 bukanlah tentang pesta pora, melainkan tentang “Hadir dan Peduli.”

​Dalam instruksinya yang tegas namun menyentuh, KDS meminta seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN), Kepala OPD, dan Camat untuk melepaskan sejenak atribut seremonial dan segera turun ke lumpur banjir.

  • Instruksi Utama: Para Camat dilarang meninggalkan wilayah dan wajib berada di garda terdepan bersama warga.
  • Spirit Kerja: “Niatkan bekerja Lillahi Ta’ala,” tegas KDS, menekankan bahwa membantu korban bencana adalah bentuk ibadah tertinggi.
  • Aksi Nyata: Fokus pada evakuasi, pemenuhan logistik, dan percepatan normalisasi pascabencana.
Baca Juga  Opini: Menagih Tabir Keadilan di Langit Wanaraja; Mengapa Hak Anak Yatim dan Miskin Dikangkangi?

Komitmen Lingkungan dan Sinergi Pentahelix

​Bupati yang akrab disapa Kang DS ini menyadari bahwa masalah banjir tidak bisa diselesaikan dengan doa semata. Ia menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga ekologi melalui kolaborasi Pentahelix—melibatkan pemerintah pusat, provinsi, akademisi, pengusaha, hingga komunitas masyarakat.

​”Kita sedang dikepung musibah. Pemkab Bandung terus berupaya keras, bersinergi dengan pusat dan provinsi untuk mencari solusi jangka panjang agar lingkungan kita kembali pulih dan aktivitas warga normal kembali,” jelasnya.

Sebuah Pesan Religi dan Sosial

​Momen HUT ke-385 ini menjadi pengingat bagi seluruh elemen masyarakat Bandung bahwa kekuatan sebuah daerah terletak pada kesalehan sosial dan kepedulian lingkungan. Antara ziarah makam dan penanganan banjir, terdapat satu benang merah: Pengabdian.

​KDS menutup rangkaian ziarah dengan harapan agar Kabupaten Bandung tidak hanya tumbuh secara fisik, tetapi juga kuat secara batiniah melalui tolong-menolong di saat sulit. Di usia yang hampir empat abad ini, Kabupaten Bandung diajak untuk kembali ke akar—menghargai alam, mencintai sesama, dan berserah diri kepada Sang Pencipta dalam setiap ikhtiar.

“Bekerja bukan sekadar menunaikan tugas, tapi tentang bagaimana kita menjadi tangan-tangan Tuhan untuk menolong sesama yang sedang kesulitan.”(**)

Tinggalkan Balasan