
BANDUNG, JAWA BARAT – Di tengah fajar yang menyingsing pada Senin pagi (05/01/2026), sebuah peringatan penting bagi masa depan bangsa menggema dari Bumi Pasundan. Pembina Barisan Kepemudaan Republik Indonesia (BK-RI) DPD Provinsi Jawa Barat, Muhammad Azmi, SH, mengeluarkan seruan resmi yang ditujukan kepada seluruh jajaran pengurus DPK Kota/Kabupaten hingga Komisariat Desa di seluruh Jawa Barat.
Bukan sekadar himbauan administratif, pesan ini merupakan panggilan nurani bagi regenerasi muda untuk lebih bijak, waspada, dan memiliki kesadaran hukum yang tinggi dalam mengarungi belantara media sosial. Antara Amanah Digital dan Fitnah Akhir Zaman Dalam penyampaiannya, Muhammad Azmi menekankan bahwa media sosial saat ini bukan lagi sekadar ruang berbagi, melainkan medan tempur siber-psikologis yang sangat nyata. Beliau menyoroti munculnya fenomena “Algoritma Adu Domba Nasional”.

”Agama mengajarkan kita bahwa ‘fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan’. Hari ini, fitnah tidak lagi hanya lewat lisan, tapi lewat algoritma yang sistematis. Konten provokatif yang membenturkan identitas Sunda, Madura, Jawa, hingga narasi separatisme adalah racun yang dibungkus dengan bungkus digital,” ujar Azmi dengan nada tenang namun tegas.
Beliau mengingatkan bahwa pola ini merupakan ciri perang hibrida modern. Tujuannya satu: menciptakan konflik horizontal agar bangsa ini runtuh dari dalam, sebagaimana sejarah pahit yang menimpa negara-negara di Timur Tengah.
Penyadaran Hukum: Jemarimu adalah Harimaumu Sebagai seorang praktisi hukum, Muhammad Azmi menggarisbawahi pentingnya pemuda memahami konsekuensi logis dan hukum dari setiap aktivitas digital. Menurutnya, kesadaran hukum bukan karena takut pada jeruji besi, melainkan bentuk tanggung jawab kepada Tuhan dan tanah air.
Saring Sebelum Sharing: Menjadi filter bagi informasi SARA bukan hanya kewajiban hukum (UU ITE), tapi juga kewajiban moral untuk menjaga kedamaian.
Waspada Infiltrasi Asing: Pemuda harus sadar bahwa setiap jempol yang membagikan konten provokatif tanpa verifikasi adalah langkah awal bagi pihak asing untuk melemahkan kedaulatan Nusantara.
Persatuan sebagai Benteng: Memperkuat ukhuwah (persaudaraan) antar-suku dan golongan adalah satu-satunya cara meruntuhkan algoritma perpecahan.
Seruan untuk Aksi Nyata
Kepada seluruh anggota BK-RI di setiap tingkatan, Muhammad Azmi menginstruksikan agar menjadi “Duta Kedamaian Digital”. Beliau berharap kader BK-RI tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi garda terdepan yang mendinginkan suasana saat ruang publik memanas.
“Indonesia adalah rumah besar kita. Jangan biarkan orang asing membakar rumah kita dengan meminjam tangan kita sendiri. Mari kita gunakan media sosial untuk menebar manfaat, bukan maksiat digital berupa caci maki dan perpecahan,” pungkasnya.
Pesan ini menjadi pengingat bagi generasi muda di Jawa Barat bahwa di balik layar gawai mereka, ada masa depan bangsa yang dipertaruhkan. Kewaspadaan nasional kini bukan lagi pilihan, melainkan bentuk ibadah untuk menjaga keutuhan NKRI.
Editor: Redaksi Nasional
Waktu: 05 Januari 2026 | 07:30 WIB