RAGAM

Bikin Penasaran! Kisah Mistis dan Sejarah Zaman Belanda di Balik Wisata Cemara Desa Cidamar

2
×

Bikin Penasaran! Kisah Mistis dan Sejarah Zaman Belanda di Balik Wisata Cemara Desa Cidamar

Sebarkan artikel ini

CIANJUR – Kawasan Pantai Cemara di Kampung Cipanglay, Desa Cidamar, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur, memiliki rekam jejak yang sangat unik. Di satu sisi, ia menyajikan keindahan sabuk hijau (hutan pantai) seluas 13,5 hektar yang dipenuhi Pohon Cemara Udang yang asri. Namun di sisi lain, letak geografisnya yang berada di pesisir Samudra Hindia membuat wilayah ini menyimpan lapisan sejarah panjang yang kental dengan nuansa mistis kolonial dan spiritual Sunda.

​1. Zaman Kolonial Belanda: Benteng Pertahanan dan Kampung Tertua

​Secara historis, Kampung Cipanglay merupakan salah satu wilayah pemukiman tertua di Desa Cidamar. Berdasarkan catatan sejarah lokal, Cipanglay awalnya adalah daerah terisolasi yang dianggap paling aman di pesisir Cidaun. Sebelum berkembang menjadi perkampungan, di area tersebut hanya ada dua rumah yang berdiri di dekat saluran air (selokan) sebelum akhirnya bergeser ke pusat perkampungan Cipanglay yang kita kenal sekarang.

​Pada masa penjajahan Belanda—terutama di era pembentukan Padaleman (pemerintahan lokal) sekitar tahun 1811 oleh keturunan Sukapura seperti R. Braja Diguna (Eyang Semah Dalem) dan R. Baja Diguna (Eyang Ngabehi)—wilayah pesisir Cidaun termasuk Cipanglay dipantau ketat.

  • Fungsi Strategis Militer: Belanda melihat pesisir selatan Cianjur sebagai titik rawan pertahanan. Di sekitar garis pantai Cidaun hingga Sindangbarang, pemerintah kolonial membangun beberapa pos pantau dan benteng pertahanan guna mengawasi pergerakan kapal-kapal musuh di Samudra Hindia serta mencegah penyelundupan logistik oleh para pejuang pribumi (termasuk sisa-sisa pasukan Mataram dan Banten yang melipir ke selatan).
  • Aktivitas Agraria & Kerja Paksa: Pesisir Cipanglay saat itu masih berupa rawa pantai dan hutan belantara yang angker. Eyang Ngabehi memimpin pembukaan lahan persawahan dan selokan pertama di sana demi ketahanan pangan lokal di tengah himpitan aturan kolonial.
Baca Juga  Prabowo Kasih Kode Bikin Akademi Sepak Bola Sambangi Persib U-17 Dan GFA di Qatar

​2. Sisi Mistis: Pintu Gerbang Laut Selatan dan Karomah Para Leluhur

​Nuansa mistis di Pantai Cemara Cipanglay tidak terlepas dari mitos besar Laut Selatan (Nyi Roro Kidul) serta jejak spiritual para tokoh pembuka wilayah (karuhun).

  • Mitos Gerbang Ghaib Kerajaan Selatan: Seperti pantai-pantai selatan Jawa lainnya, masyarakat setempat meyakini bahwa hamparan pantai di Cipanglay merupakan salah satu “pintu gerbang” atau area perlintasan bagi bala tentara ghaib Ratu Laut Selatan. Keberadaan muara Sungai Kali Cidamar yang berdekatan dengan area hutan cemara ini sering dianggap sebagai tempat sakral pertemuan air tawar dan air laut, yang dalam kosmologi Sunda dinilai memiliki energi spiritual yang kuat.
  • Petilasan dan Makam Karomah: Nuansa mistis di Cidamar ditopang oleh keberadaan makam-makam tokoh penyebar Islam dan penguasa masa lalu. Tokoh seperti R. Braja Diguna (Eyang Semah Dalem) yang dimakamkan di Panyindangan (tidak jauh dari pusat Cidamar) dan saudara-saudaranya diyakini masih “menjaga” wilayah tersebut secara ghaib. Sebelum hutan cemara ini ditata, area Cipanglay dipandang sebagai kawasan wingit (angker) di mana masyarakat tidak berani sembarangan menebang pohon atau berkata kasar.
  • Pantangan Baju Hijau: Hingga hari ini, para tetua adat dan pengelola wisata tetap mengimbau para wisatawan yang berkunjung atau melakukan camping ground di bawah rimbunnya pohon cemara untuk menjaga sopan santun, tidak berenang terlalu tengah karena karakteristik ombak Samudra Hindia yang ganas, serta menghormati kepercayaan lokal terkait larangan pakaian tertentu (seperti warna hijau gadung).

​3. Era Modern (2014 – Sekarang): Transformasi Menjadi Hutan Cemara Udang

​Meskipun wilayah Cipanglay sudah ada sejak ratusan tahun lalu, pemandangan berupa Hutan Cemara rimbun yang ada saat ini justru merupakan hasil konservasi modern.

  • Penanaman Tahun 2014: Pada tahun 2014, Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat bersama warga lokal yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) mulai menanam pohon Cemara Udang secara masif di sepanjang bibir pantai Cipanglay. Tujuannya utamanya adalah sebagai greenbelt (sabuk hijau) untuk menahan abrasi laut selatan, memecah angin kencang, dan mencegah tsunami.
  • Daya Tarik Wisata Hits: Pohon-pohon cemara tersebut tumbuh subur dan membentuk kanopi hijau raksasa seluas 13,5 hektar. Suasana yang tadinya gersang berubah menjadi sangat sejuk dan teduh, kontras dengan citra pantai selatan yang biasanya panas terik.
  • Destinasi Camping & Wisata Alternatif: Kini, Pantai Cemara Cipanglay telah bertransformasi menjadi salah satu destinasi wisata alam dan tempat berkemah (camping ground) unggulan di Cianjur Selatan. Selain lokasinya yang estetik berlatar pohon cemara berjejer, tempat ini juga menawarkan pemandangan muara sungai dan persawahan Cidamar yang asri.
Baca Juga  Ikhtiar Mencari Keadilan di Balik Reruntuhan SDN Andir 2: Antara Amanah dan Realita

​Meskipun kini telah ramai dikunjungi oleh wisatawan dari Bandung, Cianjur, hingga luar daerah, aura magis sejarah masa lalu dan ketegasan aturan alam Laut Selatan tetap melekat erat, berdampingan secara harmonis dengan geliat ekonomi kreatif warga Desa Cidamar. (Rudy Ugt)

Tinggalkan Balasan