RAGAM

Permata dari Garut Selatan: Gadis 14 Tahun Pembawa Mimpi Indonesia di Piala Asia Tenggara!

6
×

Permata dari Garut Selatan: Gadis 14 Tahun Pembawa Mimpi Indonesia di Piala Asia Tenggara!

Sebarkan artikel ini

GARUT – Dari sudut pesisir Garut Selatan, sebuah nama sedang meretas jalan menuju panggung sepak bola putri internasional.

Dini astari Binty Jamaludin Siswi/Pemain remaja putri berusia 14 tahun asal Desa Indralayang, Kecamatan Caringin, kini menjadi buah bibir setelah sukses membawa timnya,

Yadi Maryadi “Pelatih Grup Pluto Bandung“, merajai berbagai kompetisi regional.

​Tidak tanggung-tanggung, dua gelar juara beruntun berhasil disabet, mulai dari turnamen di Cirebon hingga kompetisi bergengsi di Sirkuit Sentul, Bogor. Kini, siswi SMP kebanggaan Garut ini tengah menatap target yang jauh lebih besar: Kejuaraan Sepak Bola Putri U-14 se-Asia Tenggara.

​Namun, di balik kegemilangan bakatnya, tersimpan ironi klasik yang kerap menimpa atlet muda berbakat tanah air: keterbatasan biaya dan minimnya fasilitas penunjang.

Sentilan Regulasi: Di Mana Tanggung Jawab Pemerintah?

​Perjalanan menuju level Asia Tenggara bukanlah perkara mudah. Selain fisik dan mental, pemenuhan kebutuhan logistik, akomodasi, dan pembinaan intensif memerlukan biaya yang tidak sedikit. Di sinilah komitmen pemerintah daerah hingga pusat diuji.

​Jika merujuk pada regulasi, dukungan untuk atlet muda seperti Dini astari bukanlah sebuah “belas kasihan”, melainkan kewajiban konstitusi:

  • UU No. 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan: Mengamanatkan negara untuk menjamin pengembangan potensi kepemudaan secara terencana dan berkelanjutan.
  • PP No. 41 Tahun 2011 tentang Pengembangan Kependidikan Kepemudaan dan Kepeloporan Pemuda: Secara spesifik mengatur fasilitasi permodalan dan sarana bagi pemuda yang berprestasi.

​Masyarakat kini mempertanyakan langkah nyata dari Bupati Garut dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Semangat regenerasi muda tidak akan pernah terwujud jika birokrasi dan dukungan dana masih mandek di meja-meja rapat. Anggaran dan kebijakan harus diturunkan ke lapangan, menjemput aset bangsa yang sedang berjuang mengharumkan nama daerah.

Baca Juga  OPINI PUBLIK! Menguji Ketukan Nurani di Dapur Gizi: Antara Amanah Ilahi dan Jerat Pidana Kelalaian!

Peluang Emas Kemitraan: Menjadi Bagian dari Sejarah

​Mengingat skala kompetisi yang sudah menyentuh tingkat internasional, sinergi lintas sektor menjadi kunci utama. Ini adalah momentum emas bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Perusahaan Swasta untuk mengambil peran strategis.

​”Mendukung talenta muda seperti ini bukan sekadar aksi sosial, melainkan investasi reputasi jangka panjang. Brand yang melekat pada jersey dan perjalanan tim ini menuju panggung Asia Tenggara akan mengasosiasikan diri mereka dengan nilai-nilai daya juang, prestasi, dan nasionalisme.”

​Bentuk dukungan sponsorship—baik dalam bentuk dana pembinaan, penyediaan apparel, hingga nutrisi atlet—akan menjadi bahan bakar utama yang menerbangkan mimpi anak bangsa ini ke level tertinggi.

Waktunya Bertindak

​Satu kaki Dini Astari sudah berada di gerbang Asia Tenggara. Bakat alamnya dari Caringin telah teruji di Cirebon dan Sentul. Kini, bola panas ada di tangan pemerintah dan para pemangku kebijakan ekonomi.

​Apakah kita akan membiarkan mutiara dari Garut Selatan ini redup sebelum berkembang, atau bersama-sama menjadi saksi saat ia mengibarkan Merah Putih di podium tertinggi Asia Tenggara? (Red)

Tinggalkan Balasan