HUKUM

Menjaga Nafas Cimanuk: Ikhtiar Langit dan Bumi Sekolah Sungai Cimanuk dalam Mitigasi Bencana

137
×

Menjaga Nafas Cimanuk: Ikhtiar Langit dan Bumi Sekolah Sungai Cimanuk dalam Mitigasi Bencana

Sebarkan artikel ini

GARUT – Sungai bukan sekadar aliran air, ia adalah urat nadi kehidupan yang menyimpan memori dan amanah Tuhan untuk dijaga. Menyadari hal tersebut, Sekolah Sungai Cimanuk (SSC) Garut bersiap menginisiasi sebuah langkah besar dalam menjaga keselamatan umat melalui sosialisasi mitigasi bencana yang akan melibatkan perwakilan Kampung Siaga Bencana (KSB) dari 42 kecamatan se-Kabupaten Garut.

​Kegiatan yang sarat akan nilai edukasi dan kemanusiaan ini rencananya akan dipusatkan di Lapang Paris (Teras Cimanuk). Lokasi ini bukan sekadar hamparan lahan milik negara, melainkan sebuah saksi bisu sejarah yang menyimpan duka mendalam saat banjir bandang menerjang pada tahun 2016 silam.

Mitigasi sebagai Bentuk Syukur dan Penjagaan Nyawa

​Direktur Sekolah Sungai Cimanuk, Mulyono Khaddafi, menegaskan bahwa mitigasi bukan sekadar prosedur teknis, melainkan bentuk ikhtiar untuk memuliakan kehidupan.

​“Tujuan mitigasi bencana adalah untuk menyelamatkan nyawa, mengurangi kerusakan, dan mempercepat pemulihan. Ini adalah upaya kita mengurangi risiko sebelum bencana itu datang mengetuk pintu,” ujar Mulyono dengan nada khidmat, Minggu (28/12/2025).

​Beliau menekankan bahwa menjaga alam adalah bagian dari ibadah. Melalui sistem peringatan dini dan edukasi bangunan ramah bencana berbahan bambu, SSC berupaya membangun harmoni antara manusia dan lingkungannya, terutama di zona merah yang memiliki kerentanan tinggi terhadap banjir.

Menanam Pohon, Menabung Kebaikan

​Langkah nyata telah dimulai. Di sekitar kawasan Teras Cimanuk, penghijauan kembali (reboisasi) terus dilakukan. Pohon-pohon yang ditanam bukan sekadar peneduh, melainkan “pasukan hijau” yang bertugas mencegah erosi, mengatur siklus air, dan menyaring polusi demi kualitas hidup masyarakat yang lebih baik.

​“Dengan menanam pohon, kita sedang merawat masa depan. Kita menjaga Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimanuk agar ia tetap menjadi sumber berkah, bukan musibah,” tambah Mulyono.

Baca Juga  Adv. Fardy & Rekan Selaku Penasehat Hukum Media Cyber BK-RI dari Konten 88  Mengapresiasi Soal Kritikan Pedas Terhadap Dinas Terkait Bidang Kepemudaan Kembali Menjadi Sorotan Tajam.!!

Transformasi Lapang Paris: Dari Puing Menuju Ruang Edukasi

​Mengingat kembali peristiwa kelam 2016, Lapang Paris sempat luluh lantak. Namun, berlandaskan UU No. 24 Tahun 2007 dan Peraturan Kepala BNPB No. 11 Tahun 2014, SSC bersama masyarakat berjibaku memulihkan keadaan.

​Kini, wajah Lapang Paris telah berseri kembali. Ia bertransformasi dari kawasan terdampak parah menjadi destinasi wisata sungai sekaligus ruang edukasi. Keberhasilan ini adalah bukti bahwa kolaborasi yang tulus dapat membangkitkan kembali semangat yang sempat hanyut oleh arus.

Sebuah Ajakan Moral

​Melalui sosialisasi yang akan datang, SSC berharap 42 kecamatan di Garut memiliki kesiapsiagaan yang sama. Ini adalah panggilan untuk kembali ke jati diri manusia sebagai khalifah di bumi yang berkewajiban merawat semesta.

​“Alhamdulillah, Lapang Paris kini sudah normal. Bahkan bermanfaat bagi umat manusia. Tugas kita sekarang adalah memastikan sejarah pahit itu tidak terulang. Menjaga Cimanuk adalah menjaga kehidupan kita sendiri,” pungkas Mulyono Khaddafi. (***)

Tinggalkan Balasan