
KARAWANG – Di bawah langit Rengasdengklok yang mulai merona jingga, sebuah momentum sakral tercipta. Bukan sekadar seremoni, Ikatan Wartawan Online Indonesia (IWO Indonesia) DPD Kabupaten Karawang memilih bersimpuh di Tugu Kebulatan Tekad pada Minggu (8/2/2026) sore. Di tanah yang menjadi saksi bisu lahirnya keberanian bangsa, IWO Indonesia merayakan sewindu perjalanannya dengan sebuah “Renungan Kebangsaan” yang menyayat kalbu sekaligus membakar semangat profesionalisme.

Titik Nol Perjuangan dan Supremasi Moral
Memilih Rengasdengklok sebagai pusat refleksi bukan tanpa alasan teologis dan historis. Di sinilah para pemuda dulu “memaksa” sejarah untuk segera melahirkan kemerdekaan. Kini, di usia ke-8, IWO Indonesia hadir untuk “memaksa” nurani pers agar tidak hanyut dalam arus disinformasi.
”Rengasdengklok adalah simbol keberanian menentukan sikap di masa genting. Spirit itulah yang harus dihidupkan kembali oleh setiap jurnalis. Berani menyampaikan kebenaran meski di bawah tekanan, serta tegak berdiri di atas hukum dan etika,” ujar Dedi MK, Ketua Pelaksana, dengan nada yang bergetar penuh haru.

Pers: Antara Integritas dan Pengabdian Illahi
Dalam balutan doa bersama yang khidmat, tema “Pers Merawat Ingatan Bangsa, Jurnalis Menjaga Nurani Demokrasi” menggema di sela-sela pilar tugu perjuangan. Ketua IWO Indonesia DPD Karawang, Syuhada Wisastra, Amd., CHRM., mengingatkan bahwa profesi jurnalis adalah bentuk ibadah sosial.
”Jangan pernah lelah belajar, jangan takut bersuara, dan jangan sekali-kali menukar integritas demi kepentingan sesaat. Kita adalah garda terdepan penjaga kebenaran,” tegas Syuhada di hadapan puluhan anggotanya.
Ia memaparkan dedikasi nyata dengan prinsip Zero Payment. Sebuah langkah konkret penegakan kehormatan organisasi: tidak ada pungutan bagi anggota. Baginya, kebersamaan berbangsa hanya bisa dirajut jika organisasi dikelola dengan transparansi dan kasih sayang antar-sesama.
Menegakkan Marwah, Menjaga Kedaulatan Hukum
Ketua Umum IWO Indonesia, Dr. NR Icang Rahardian, SH., S.AK., MH., M.Pd., membawa pesan yang lebih dalam tentang kualitas manusia. Menurutnya, jurnalis tidak boleh hanya “gagah” secara penampilan, tetapi harus “tajam” secara intelektual dan tunduk pada supremasi hukum.
”SDM harus ditingkatkan agar wartawan benar-benar diperhitungkan. Kita ingin IWO Indonesia melahirkan jurnalis yang kompeten secara keilmuan dan mulia secara akhlak,” tutur Dr. Icang. Ia juga menegaskan bahwa ketiadaan perayaan nasional tahun ini adalah bentuk empati religius atas berbagai musibah yang menimpa negeri, sebuah wujud solidaritas kebangsaan yang nyata.
Sebuah Janji dari Tanah Sejarah
Acara ini ditutup dengan naskah renungan yang mengingatkan bahwa tulisan wartawan adalah prasasti sejarah. Di tengah riuhnya dunia digital, IWO Indonesia berkomitmen:
- Akurasi di atas Kecepatan: Tidak mengorbankan kebenaran demi klik atau rating.
- Integritas di atas Popularitas: Menjaga marwah profesi dari godaan materi.
- Pengabdian Publik: Mengawal program negara, seperti Makan Bergizi Gratis, untuk memastikan hak rakyat tersampaikan.
Dari Rengasdengklok, IWO Indonesia mengirim pesan ke seluruh penjuru negeri: Bahwa kebebasan pers adalah amanah Tuhan, dan menegakkan hukum melalui informasi yang benar adalah kewajiban setiap putra bangsa. (Red)
Sumber: (HUMAS IWOI DPD KARAWANG) Provinsi Jawa Barat.